Soe
Hok Gie (Templat:Lahirmati) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan
mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun1962–1969.
Kutipan
Seorang
filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang
kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya
memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
Kehidupan
sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang
dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan
kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau
berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita
ini tidak pantas mati di tempat tidur.
Akhir-akhir
ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya
menulis, melakukan kritik kepada banyak orang … makin lama makin banyak musuh
saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Kritik-kritik saya tidak
mengubah keadaan. Jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan … Kadang-kadang saya
merasa sungguh kesepian.
Saya
mimpi tentang sebuah dunia, di mana ulama - buruh - dan pemuda, bangkit dan
berkata - stop semua kemunafikan, stop semua pembunuhan atas nama apa pun. Tak
ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan
perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Beberapa
bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Saya meninggalkan dengan hati
berat dan tidak tenang. Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa. Orang
yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan … Masih terlalu banyak mahasiswa
yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau
berkuasa.
Hanya
mereka yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan. Kalau mahasiswa
Indonesia tidak berani menuntut haknya, biarlah mereka ditindas sampai akhir
zaman oleh sementara dosen-dosen korup mereka.
Kami
jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah
manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin
tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai
sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air
Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari
dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan
fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.
Yang
paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba
hati, dapat merasai kedukaan…
kekuasaan
cenderung korup, dan kekuasaan absolut cenderung korupsi
Kalau
kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit
lebih
baik diasingkan/dikucilkan daripada menyerah terhadap kemunafikan
“Nobody
can see the trouble I see, nobody knows my sorrow." dari Soe Hok Gie:
Catatan Seorang Demonstran
“Tapi
sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia
sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu,
katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban
buat tidak apa-apa (Catatan Seorang Demonstran, h. 101)”
“Bagiku
ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai,
dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih
dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum
sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan
itu maka absurdlah hidup kita” ― Soe Hok Gie, Soe Hok Gie: Catatan Seorang
Demonstran
“Dan
seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti
kita melupakan yang mati untuk revolusi (Catatan Seorang Demonstran, h. 93)”
“Mimpi
saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia
berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan
pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai
seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang
mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia. ”
“Makhluk
kecil kembalilah. Dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.” ― Soe
Hok Gie, Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran
“Saya
mimpi tentang sebuah dunia dimana ulama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata,
“stop semua kemunafikan ! Stop semua pembunuhan atas nama apapun.. dan para
politisi di PBB, sibuk mengatur pengangkatan gandum, susu, dan beras buat
anak-anak yang lapar di 3 benua, dan lupa akan diplomasi. Tak ada lagi rasa
benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun..dan melupakan
perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih
baik.”
“Aku
kira dan bagiku itulah kesadaran sejarah. Sadar akan hidup dan kesia-siaan nilai.”
― Soe Hok Gie, Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran
“Tetapi
kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada
perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu
tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan
kejujuran.”
“Potonglah
kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan
padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”
“Dunia
ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi
indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya
akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam
segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.”
“Ketika
Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka
(pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak".
Mereka, walaupun masih muda, telah berani menentang pemimpin-pemimpin gang-gang
bajingan, rezim Nazi yang semua identik. Bahwa mereka mati, bagiku bukan soal.
Mereka telah memenuhi panggilan seorang pemikir. Tidak ada indahnya (dalam arti
romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara
tentang kebenaran.”
“Karena
aku cinta pada keberanian hidup”
Puisi
Jadilah
saja belukan Tapi belukan terbaik yang tumbuh ditepi danau Kalau kau tak
sanggup menjadi belukan Jadilah saja rumput Tapi rumput yang memperkuat tanggul
pinggiran jalan Tidak semua jadi kapten Tentu harus ada awak kapalnya Bukan
besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu Jadilah saja
dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri